Minggu, 13 September 2009

Tamini Fashion Show for Kids 13 Sept 09

Anak2 kecil kalau ikutan fashion show lucu juga, dari yang mulai salah hormat, nangis sampai ada yang kelamaan bolak-balik diatas panggung nggak mau turun hi hi..

 


 
 














Tamu kita kali ini adalah Tashya,
 umurnya 4 tahun dan diantar oleh tante, nenek dan bundanya untuk foto di Lamara Tamini. Cantik kan ?

Sabtu, 12 September 2009

Asmaul Husna

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungimu.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung,
lalu Dia memberikan petunjuk.

Serta Dia mendapatimu butuh,
lalu Dia memberi kecukupan pada-mu ?”
[QS. Adh-Dhuha : 6-8]
***********************************************************
Asmaul Husna
Ash Shamad


Umumnya ulama bahasa dan ulama tafsir memahami arti ash-Shamad sebagai Dia yang kepada-Nya lah tertuju semua harapan makhluk. Dia yang dimohonkan memenuhi kebutuhan makhluk serta menanggulangi segala kesulitan mereka. Sehingga apabila dilihat dalam buku-buku yang membahas tentang Asma 'al Husna, makan kita temua pengertian ash-Shamad sebagai Yang Maha Dibutuhkan.


Dalam al Qur'an, kata ash-Shamad hanya ditemukan sekali, yaitu pada ayat kedua dari surat al-Ikhlas ; "Allaah ash-Shamad". Ayat ini menjelaskan bahwa Allah sajalah tumpuan harapan satu-satunya dan pada saat membutuhkan sesuatu, memohonlah hanya kepadaNya.

Manusia, sebagai yang diciptakan dengan karunia akal untuk berpikir serta kemampuan untuk memilih, sudah seharusnyalah apabila bermaksud dan berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu harus mencari cara yang paling tepat untuk sampai pada maksud dan keinginan itu. Dan yang mendasari cara yang dipilih itu, haruslah rasa penyerahan diri pada kemampuan Allah yang akan menyelesaikan segala urusan dan rasa butuh akan pertolongan Allah.

Manusia yang ingin meneladani sifat Allah ini, terlebih dahulu dituntut untuk mengarahkan motivasi dari segala aktivitasnya kepada dan demi karena Allah semata.

Allah, bagi manusia haruslah menjadi pangkalan tempat bertolak serta pelabuhan tempat bersauh.

Dalam hubungan dengan sesama manusia, ketika meneladani sifat ini, kitapun harus berusaha untuk menjadi tumpuan harapan atau dengan kata lain, bisa diandalkan. Ingatlah pesat Rasulullah saw ; "Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya (sesama makhluk Allah) maka Allah akan memenuhi pula kebutuhannya.

Sesungguhnya, kebutuhan orang lain akan diri kita adalah salah satu bukti ni'mat Allah untuk kita. Oleh karenanya, janganlah jemu utnuk memenuhi kebutuhan orang lain, menolong baik secara lahir maupun batin, karena bila kita jemu akan kebutuhan orang lain, artinya kita jemu menerima ni'mat-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

------------------------------
sumber : "Menyingkap Tabir Ilahi", Al-Asma' al-Husna dalam Perspektif Al Qur'an, M. Quraish Shihab, Penerbit Lentera Hati, 2006
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

[QS Al A'raaf : 31]
*******************************************
Puasa Apa Adanya

Konon katanya di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur oleh Sang Pemilik Kehidupan. Dalam setiap kejadian, dalam segala episode kehidupan, semua ada maksudNya.

Begitulah yang saya rasakan dari perjalanan ke negara pulau nan mungil bernama Mauritius ini. Sepertinya Allah yang Maha Kaya, yang ilmuNya meliputi langit, bumi sampai ke dasar lautan, ingin mengajarkan saya sesuatu yang belum bisa saya pelajari tanpa kondisi terpaksa. Ya seperti sekarang ini, terpaksa mandiri :-)

Di Jakarta, saya sekeluarga 'menumpang' dalam rumah tangga Ibu saya. Walau akhirnya kami punya rumah sendiri  pun kami pada prinsipnya tetap menumpang. Seringnya menumpang masak, terutama. Karena menumpang itulah, saya jadi tidak terlalu memperhatikan apa dan bagaimana pengeluaran keluarga, khususnya dalam urusan logistik. Pokoknya kalau daftar barang habis yang tertempel di pintu kulkas sudah penuh, artinya sudah waktunya belanja.

Di Mauritius, ceritanya sama sekali berbeda. Kami tinggal cuma berempat. Saya, suami dan dua anak. Tanpa perlu berpayah-payah menghitung pun, setelah kurang lebih tiga bulan saya sudah menemukan pola, bahwa sekilo gula pasir rata-rata habis dalam dua bulan, satu botol minyak goreng satu liter rata-rata habis dalam 1,5 bulan (jangan bingung, saya kan spesialis tumis --tanpa minyak banyak). Barang-barang kebutuhan lain seperti beras, margarin, susu atau bahkan odol, sabun mandi dan deterjen sekalupun bisa diperhitungkan pemakaiannya dan kapan habisnya. Begitu juga kalau tiba-tiba ada yang habis sebelum waktu, bisa jelas terlihat penyebabnya apa. Biasanya kalau anak-anak libur sekolah, bahan-bahan makanan jadi lebih cepat habis :-)

Lucunya, setelah (hampir) melewati dua kali Ramadhan di sini, saya menemukan bahwa konsumsi bahan makanan (yang artinya juga pengeluaran keuangan) di bulan puasa ini meninngkat pesat, hampir dua kali lipat dari biasa. Gula satu kilo, bisa habis dalam satu bulan saja. Buah, yang biasanya cukup dibeli seminggu sekali, dengan jumlah yang sama di bulan puasa ini habis dalam 2 atau paling lama 3 hari! Belum lagi beras, roti, kopi, sampai ke bahan-bahan yang normalnya berbulan-bulan tidak habis (atau bahkan tidak saya beli) seperti tepung terigu, gula halus, buah kaleng dan masih banyak lagi. Ini belum lagi menghitung pengeluaran 'jajan' yang entah kenapa pun jadi lebih sering dilakukan. Dari mulai sekedar beli penganan buka puasa, sampai buka puasa di restoran.

Kenapa lucu?

Lucu dan membuat hati miris sebetulnya, karena sekali lagi, konsumsi dan pengeluaran ini justru meningkat dahsyat di bulan Ramadhan ; bulan puasa ! Bulan di mana kita harusnya menahan diri. Bulan di mana kita mestinya berlatih untuk hidup apa adanya ; sederhana, tidak berlebihan sekalipun kita mampu untuk melebih-lebihkan. Bulan di mana kita konon berpuasa dengan salah satu tujuannya untuk mencoba merasakan penderitaan kaum dhuafa. Bulan untuk menyucikan hati dari hawa nafsu.

Kok jadi susah menyelaraskan tujuan, logika dan kenyataan ya? Kok kenyataannya Ramadhan membuat kita jadi boros? Kok ternyata setengah harian saja kita merasakan lapar hausnya dhuafa, tapi sisa yang setengah hari lagi kita bertingkah polah seolah lebih kaya dari orang kaya?

Lalu saya mencoba menelusuri dan menebak-nebak lebih jauh lagi, jangan-jangan betul ya, pada rangkaian Ramadhan - Idul Fitri, pengeluaran keuangan kita ada di atas rata-rata pengeluaran di bulan-bulan lainnya?? Pengeluaran untuk zakat dan sedekah pastinya kan?

Bukan !? Ternyata porsi yang lebih besar bukan untuk zakat dan sedekah?

Ternyata yang lebih besar adalah pengeluaran untuk masak menu-menu spesial di saat sahur dan berbuka, untuk belanja ta'jil (apalagi kalau dibeli sekitar pukul 4 sore rasanya seluruh isi toko ingin dibeli dan dimakan) dan untuk acara buka puasa bersama. Juga untuk membeli baju baru dan tak lupa menyiapkan menu lebaran yang (harus) lebih heboh dari menu-menu Ramadhan (yang sudah cukup heboh) Oh, tak lupa juga harus membeli dan mengirim bingkisan lebaran.

Bingkisan lebaran itu untuk siapa? Untuk kaum dhuafa juga pastinya kan? Ahhh ternyata tidak juga, yang kita berikan adalah yang mungkin sudah menerima bingkisan 5-6 toples kue kering juga, yang bahkan membuat kue kering juga, dan bahkan pula mengirim bingkisan kue kering juga untuk kerabat, relasi, teman dan sebagainya.

Setelah dua puluh lima hari hampir lewat, bertanyalah saya pada diri yang dhoif ini ; apakah betul dua puluh lima hari kemarin saya dan keluarga saya telah berpuasa? Menahan diri dari apa? Ber-empati kepada rasa haus dan lapar yang seperti apa? 

Jangan-jangan, puasa kami bukannya latihan untuk hidup apa adanya, melainkan adalah puasa apa adanya ; menahan diri sekedar yang terlihat oleh mata manusia lain, hanya dari saat imsak sampai ke maghrib, sementara dari maghrib sampai ke imsak tak lain mengumbar rasa rakus dan memperturutkan kecenderungan untuk mubazir? Na'duzubillahi min dzalik.. Terimalah ibadah kami dan mampukan kami berlari untuk menjemput ridhoMu semata ya Rabb..

Jumat, 11 September 2009

Puasa Apa Adanya

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

[QS Al A'raaf : 31]
*******************************************
Puasa Apa Adanya

Konon katanya di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur oleh Sang Pemilik Kehidupan. Dalam setiap kejadian, dalam segala episode kehidupan, semua ada maksudNya.

Begitulah yang saya rasakan dari perjalanan ke negara pulau nan mungil bernama Mauritius ini. Sepertinya Allah yang Maha Kaya, yang ilmuNya meliputi langit, bumi sampai ke dasar lautan, ingin mengajarkan saya sesuatu yang belum bisa saya pelajari tanpa kondisi terpaksa. Ya seperti sekarang ini, terpaksa mandiri :-)

Di Jakarta, saya sekeluarga 'menumpang' dalam rumah tangga Ibu saya. Walau akhirnya kami punya rumah sendiri  pun kami pada prinsipnya tetap menumpang. Seringnya menumpang masak, terutama. Karena menumpang itulah, saya jadi tidak terlalu memperhatikan apa dan bagaimana pengeluaran keluarga, khususnya dalam urusan logistik. Pokoknya kalau daftar barang habis yang tertempel di pintu kulkas sudah penuh, artinya sudah waktunya belanja.

Di Mauritius, ceritanya sama sekali berbeda. Kami tinggal cuma berempat. Saya, suami dan dua anak. Tanpa perlu berpayah-payah menghitung pun, setelah kurang lebih tiga bulan saya sudah menemukan pola, bahwa sekilo gula pasir rata-rata habis dalam dua bulan, satu botol minyak goreng satu liter rata-rata habis dalam 1,5 bulan (jangan bingung, saya kan spesialis tumis --tanpa minyak banyak). Barang-barang kebutuhan lain seperti beras, margarin, susu atau bahkan odol, sabun mandi dan deterjen sekalupun bisa diperhitungkan pemakaiannya dan kapan habisnya. Begitu juga kalau tiba-tiba ada yang habis sebelum waktu, bisa jelas terlihat penyebabnya apa. Biasanya kalau anak-anak libur sekolah, bahan-bahan makanan jadi lebih cepat habis :-)

Lucunya, setelah (hampir) melewati dua kali Ramadhan di sini, saya menemukan bahwa konsumsi bahan makanan (yang artinya juga pengeluaran keuangan) di bulan puasa ini meninngkat pesat, hampir dua kali lipat dari biasa. Gula satu kilo, bisa habis dalam satu bulan saja. Buah, yang biasanya cukup dibeli seminggu sekali, dengan jumlah yang sama di bulan puasa ini habis dalam 2 atau paling lama 3 hari! Belum lagi beras, roti, kopi, sampai ke bahan-bahan yang normalnya berbulan-bulan tidak habis (atau bahkan tidak saya beli) seperti tepung terigu, gula halus, buah kaleng dan masih banyak lagi. Ini belum lagi menghitung pengeluaran 'jajan' yang entah kenapa pun jadi lebih sering dilakukan. Dari mulai sekedar beli penganan buka puasa, sampai buka puasa di restoran.

Kenapa lucu?

Lucu dan membuat hati miris sebetulnya, karena sekali lagi, konsumsi dan pengeluaran ini justru meningkat dahsyat di bulan Ramadhan ; bulan puasa ! Bulan di mana kita harusnya menahan diri. Bulan di mana kita mestinya berlatih untuk hidup apa adanya ; sederhana, tidak berlebihan sekalipun kita mampu untuk melebih-lebihkan. Bulan di mana kita konon berpuasa dengan salah satu tujuannya untuk mencoba merasakan penderitaan kaum dhuafa. Bulan untuk menyucikan hati dari hawa nafsu.

Kok jadi susah menyelaraskan tujuan, logika dan kenyataan ya? Kok kenyataannya Ramadhan membuat kita jadi boros? Kok ternyata setengah harian saja kita merasakan lapar hausnya dhuafa, tapi sisa yang setengah hari lagi kita bertingkah polah seolah lebih kaya dari orang kaya?

Lalu saya mencoba menelusuri dan menebak-nebak lebih jauh lagi, jangan-jangan betul ya, pada rangkaian Ramadhan - Idul Fitri, pengeluaran keuangan kita ada di atas rata-rata pengeluaran di bulan-bulan lainnya?? Pengeluaran untuk zakat dan sedekah pastinya kan?

Bukan !? Ternyata porsi yang lebih besar bukan untuk zakat dan sedekah?

Ternyata yang lebih besar adalah pengeluaran untuk masak menu-menu spesial di saat sahur dan berbuka, untuk belanja ta'jil (apalagi kalau dibeli sekitar pukul 4 sore rasanya seluruh isi toko ingin dibeli dan dimakan) dan untuk acara buka puasa bersama. Juga untuk membeli baju baru dan tak lupa menyiapkan menu lebaran yang (harus) lebih heboh dari menu-menu Ramadhan (yang sudah cukup heboh) Oh, tak lupa juga harus membeli dan mengirim bingkisan lebaran.

Bingkisan lebaran itu untuk siapa? Untuk kaum dhuafa juga pastinya kan? Ahhh ternyata tidak juga, yang kita berikan adalah yang mungkin sudah menerima bingkisan 5-6 toples kue kering juga, yang bahkan membuat kue kering juga, dan bahkan pula mengirim bingkisan kue kering juga untuk kerabat, relasi, teman dan sebagainya.

Setelah dua puluh lima hari hampir lewat, bertanyalah saya pada diri yang dhoif ini ; apakah betul dua puluh lima hari kemarin saya dan keluarga saya telah berpuasa? Menahan diri dari apa? Ber-empati kepada rasa haus dan lapar yang seperti apa? 

Jangan-jangan, puasa kami bukannya latihan untuk hidup apa adanya, melainkan adalah puasa apa adanya ; menahan diri sekedar yang terlihat oleh mata manusia lain, hanya dari saat imsak sampai ke maghrib, sementara dari maghrib sampai ke imsak tak lain mengumbar rasa rakus dan memperturutkan kecenderungan untuk mubazir? Na'duzubillahi min dzalik.. Terimalah ibadah kami dan mampukan kami berlari untuk menjemput ridhoMu semata ya Rabb..

Kamis, 10 September 2009

Beramal Karena Apa?

Catatan 26 Ramadhan 1430 H
"Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu"
[QS Al Qashash: : 268]
*******************************************
Beramal Karena Apa?
oleh M. Fuad Nasar


Imam al-Ghazali, mahaguru ilmu tasawuf Islam ternama, dalam kajian tasawufnya membagi orang yang beramal di dunia ini ke dalam beberapa kriteria. Pertama, beramal karena takut masuk neraka. Kedua, beramal karena mengharapkan surga. Ketiga, beramal karena didorong oleh rasa syukur atas nikmat Allah SWT dan mengharapkan keridhaan-Nya. Kata al-Ghazali, yang ketiga inilah amal yang paling sempurna keikhlasannya.

Dalam konteks ini sangat menarik disimak ucapan sufi besar Rabi'ah al-'Adawiyah, yang pada suatu hari ini berkata, mau membakar surga. Surga dianggap telah mengaburkan tujuan manusia melakukan amal kebajikan sehingga tidak lagi karena Allah melainkan lantaran mengharapkan imbalan surga. Padahal, manusia diperintahkan beramal karena Allah (lillahi ta'ala), bukan karena surga. Di hari lain Rabi'ah al-Adawiyah berkata hendak menyiram padam api neraka. Menurutnya, nereka telah mengaburkan alasan manusia menjauhi perbuatan maksiat, yaitu bukan karena mengharap ridho Allah, tetapi karena takut dengan api neraka.

Selain beramal dengan ikhlas, seorang Muslim hendaklah beramal secara ihsan. Abdurrahman 'Azzam Pasha (penulis buku Risalah Chalidah --Perdamaian Abadi) memberi pengertian ihsan sebagai berikut: "Anda berbuat suatu kebaikan padahal itu bukan menjadi kewajiban Anda."

Dengan kata lain, seseorang mencapai tingkat ihsan dalam beramal apabila ia melakukan amal kebajikan tersebut bukan lantaran adanya kewajiban syariat semata, melainkan karena cinta kepada kebajikan itu sendiri dan merasa bahagia melakukannya.

Dalam satu hadis bahkan bahwa diceritakan, Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw, "Mengapa kau begitu tekun memperbanyak amal ibadah, bukankah Allah telah menjamin dirimu tidak berdosa dan pasti masuk surga?" Rasulullah menjawab, "Wahai Aisyah, tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?"


------------------------------------------
sumber : Republika Online -- Hikmah

Rabu, 02 September 2009

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF (7 HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE) STEPHEN R. COVEY

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF (7 HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE) STEPHEN R. COVEY

Pengantar

Ini buku motivator yang di seminarkan oleh Stephen R. Covey. Dari mulai buku, video sekarang sudah banyak beredar dan menjadi panduan wajib dari para karyawan di perusahaan2 besar. isinya bagus deh, nggak rugi punya satu dirumah. Buat yang nggak sempat beli ke toko buku, bisa buka di http://www.profitadvisors.com/7-habits-summary-Vind1.pdf

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang

Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga, Kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga.

Rekening Bank Emosional

Rekening Bank Emosional mencerminkan tingkat kepercayaan dalam suatu hubungan. Seperti rekening keuangan di Bank, kita memasukkan simpanan ke atau melakukan penarikan dari rekening ini. Perbuatan-perbuatan seperti berusaha untuk memahami terlebih dulu, sikap murah hati, menepati janji, dan bersikap setia walaupun orang yang bersangkutan tidak hadir, meningkatkan saldo kepercayaan. Tidak murah hati, melanggar janji, dan bergosip tentang seseorang yang tidak hadir, mengurangi atau bahkan menghapuskan kepercayaan dalam suatu hubungan.

Paradigma

Paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia, yang belum tentu cocok dengan kenyataan. Paradigma adalah petanya, bukan wilayahnya. Paradigam adalah lensa kita, lewat mana kita lihat segalanya, yang terbentuk oleh cara kita dibesarkan, pengalaman, serta pilihan-pilihan kita selama ini.

Referensi: http://www.profitadvisors.com/7-habits-summary-Vind1.pdf